Omong Kosong Pemerintah Menghadapi COVID-19

Headline Laman Utama Opini

Pada hari Sabtu yang lalu, 1/3/20, saya bersama dengan dua orang teman, ngobrol santai di sebuah rumah makan di pinggiran Jakarta. Obrolan itu sampai pada pertanyaan yang mengheran seorang teman, kenapa virus Korona belum sampai di Indonesia. Ia lalu mencoba mengonfirmasi kebenaran klaim tentang ras Melayu yang tahan virus dan berharap ada diantara kami yang membaca informasi lain.

Saya mulai menanggapi masalah itu dengan tulisan Dahlan Iskan yang dimuat di disway.id, Catatan Harian Dahlan Iskan. Lengkapnya silakan baca di sini. Tanggapan itu saya tutup dengan catatan, bahwa apa yang ditulis oleh Dahlan Iskan hanya berdasarkan perjalanannya sendiri dan cerita para ahli dengan 10 pasien yang diperiksa di Labor Universitas Airlangga. Dan itu sangat tidak mewakili Indonesia yang sangat luas.

Sebelum ditanggapi oleh dua teman lain tadi, saya mengutarakan kemungkinan lain, yakni bahwa tidak adanya korban virus Korona di Indonesia bisa saja sengaja ditutupi dan tidak diberitakan sama sekali atas intervensi pemerintah. Hal ini mengingat dua hal, yakni kerja sama pemerintahan Indonesia dengan China yang sangat akrab selama pemerintahan Jokowi dan  antisipasi konflik horizontal karena Sinophobia (anti-China) yang selain dapat mengganggu investasi negara Tiongkok di Indonesia juga dapat mengganggu keakraban antar warga negara karena rasisme.

Kemungkinan itu saya sampaikan sebagai bentuk ketidakpercayaan pada teori yang dilahirkan kemarin sore, ras Melayu kebal virus. Terlebih lagi teori itu hanya berdasar pengalaman umum belasan tahun lalu tentang virus SARS dan MERS, bukan atas dasar penelitian ilmiah. Teori ini kemudian seakan dikampanyekan di media massa Indonesia sehingga masyarakat abai pada bahaya virus. Dan penolakkan terhadap turis asal China seperti terjadi di Sumatera Barat tidak melebar ke daerah lain.

Hingga WHO menyampaikan ancaman pada negara yang tidak melaporkan korban terinveksi virus Korona pada 29 Februari 2020, pemerintah Indonesia tidak menyebut adanya korban di Indonesia. Bahkan setelah diberitakan warga Jepang positif Korona sepulang dari Indonesia, pemerintah masih mengklaim tak ada warga yang terinveksi virus mematikan itu. Padahal virus Korona itu telah mewabah dan mematikan ribuan korban di berbagai negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika Australia, Malaysia dan Singapura.  

Dari fakta ini, saya menyimpulkan bahwa pemerintah Indonesia tidak hanya telah mengabaikan perlindungan rakyat Indonesia tapi juga telah bermain-main dengan nyawa manusia. Abainya perlindungan terhadap rakyat Indonesia dari virus yang berbahaya itu dapat kita lihat salah satunya dari pengamanan di bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Dalam kunjungan saya ke Bandara Soeta pada pertengahan Februari 2020, terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak terlihat bahwa dunia sedang dalam bahaya penyebaran virus dan tidak ada tanda-tanda pemeriksaan kesehatan bahkan hingga ruang tunggu. Saya mengira mungkin pemeriksaan kesehatan penumpang dilakukan di tempat tertentu yang tersembunyi. Laporan dari detikcom pada 2/3/20 membenarkan bahwa pengawasan terhadap virus Korona di bandara Soekarno-Hatta memang ala kadarnya sehingga terkesan sedang tidak terjadi apa-apa, di bandingkan dengan negara lain yang wasapada.

Dua hari setelah ancaman WHO itu, pemerintah melaporkan ada dua warga Indonesia yang terinveksi virus Korona. Setelah menyampaikan laporan itu, Presiden Jokowi masih saja mengklaim bahwa sejak awal pemerintah telah mempersiapkan rumah sakit dengan 100 ruang isolasi,  peralatan dan SOP dengan standar internasional.

Negara telah gagal mendeteksi adanya virus Korona yang masuk melalui warga negara asing. Bahkan hingga warga negara Jepang itu kembali pulang tak ada informasi apapun kecuali negara lain memberitakannya positif Korona. Ini menunjukkan negara tidak melakukan perlindungan terhadap warga negara atau sengaja mendiamkan adanya virus yang menyebar.

Jika satu warga Jepang saja dapat menjangkiti dua warga negara, bagaimana dengan ratusan warga Indonesia yang pulang dari Wuhan,  China beberapa bulan lalu? Apa mungkin mereka kebal virus Korona atau sengaja ditutupi oleh pemerintah? Hal ini perlu dilihat kembali demi menyelamat nyawa jutaan orang Indonesia.

Seandainya benar pemerintah terlibat dan sengaja menutupi penyebaran virus Korona, maka ini tindakan memalukan dan keterlaluan. Akan lebih memalukan lagi bila penutupan itu dengan alasan politik dan investasi China di Indonesia. Apalah artinya investasi, perkembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur bila mengabaikan satu jiwa manusia. Atau bagi pemerintah satu jiwa manusia tidak lebih berarti di banding uang da pembangunan?

Kalau sampai terjadi bahwa demi pembangunan dan ekonomi, negara Indonesia harus mengorbankan jiwa manusia, maka Pancasila telah mati di hadapan investasi dan pembangunan. Klaim nasionalisme pemerintah hanya omong kosong belaka, selain untuk menjadi tameng menghadapi lawan politik.

Disiarkan Geotime.co.id 11 Maret 2020 dengan judul Retorika Pemerintah Soal Virus Korona, lihat di sini

Sumber Gambar; IDN Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *