SAMPANG http://simak.co.id Penanganan polemik Kepala Puskesmas Robatal, dr. Benny Irawan, masih berkutat pada proses birokrasi, ditengah koordinasi lintas instansi yang telah dilakukan, kepastian langkah terhadap yang bersangkutan belum juga diumumkan.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Sampang, dr. Dwi Herlinda Lusi Harini, pun belum memberikan jawaban atas konfirmasi wartawan hingga berita ini ditulis.
Kepala BKPSDM Sampang, Arief Lukman Hidayat, mengatakan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Inspektorat telah dilakukan, namun, proses penonaktifan masih berjalan.
Baca Juga : Rangkaian Tuntutan Publik Mengiringi Kholilurrahman Menjelang Dua Tahun Memimpin Pamekasan
“Sudah dilaksanakan kordinasi dengan dinkes dan inspektorat, terkait penonaktifan ybs masih berproses,” kata Arief melalui pesan WhatsApp, Kamis (22/10/2026).
Arief menegaskan, proses hukuman disiplin kepegawaian berada pada atasan langsung yang bersangkutan, yakni Dinas Kesehatan.
Pernyataan itu menempatkan Dinkes sebagai pihak yang memegang peran penting dalam tindak lanjut persoalan tersebut, namun, ketika konfirmasi wartawan tak kunjung dijawab, sikap pimpinan dinas justru terkesan menghindari penjelasan, bukan hanya soal cepat atau lambatnya proses, tetapi juga soal ketegasan dan keterbukaan pejabat dalam mempertanggungjawabkan penanganan masalah.
Ketidakjelasan langkah dapat memperpanjang polemik dan menimbulkan kesan bahwa persoalan serius di lingkungan pelayanan kesehatan cukup diselesaikan dengan jawaban normatif “masih berproses” padahal, proses administrasi semestinya berjalan seiring dengan penjelasan mengenai tahapan, kewenangan, dan tindak lanjut yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga : PAD Parkir Pamekasan Rp4,05 Miliar, Uji Aliran Setoran, Berapa yang Dipungut dan Masuk Kas Daerah?
Bupati Sampang perlu meminta penjelasan mengenai perkembangan penanganan perkara tersebut sesuai kewenangannya, sikap diam dan ketidakjelasan tindak lanjut hanya akan memperkuat kesan bahwa Dinkes tidak tegas menghadapi persoalan yang menjadi tanggung jawabnya.
Dampaknya bukan sekedar polemik berkepanjangan, melainkan juga berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap kepemimpinan dan tata kelola pelayanan kesehatan.
Polemik ini viral setelah peristiwa pada 8 Oktober 2026 yang melibatkan Benny Irawan dan seorang tenaga kesehatan berinisial AI menjadi sorotan publik, berdasarkan informasi yang dihimpun, suami AI berinisial F datang bersama unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas, Benny dan AI disebut berada di dalam satu ruangan sebelum keluar setelah kedatangan rombongan tersebut.
Pihak-pihak terkait kemudian dibawa ke Polres Sampang untuk penanganan lebih lanjut, peristiwa tersebut memicu sorotan terhadap Kepala Puskesmas Robatal dan desakan agar dilakukan penonaktifan sementara selama proses pemeriksaan.






