Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus di Padang Padati Gedung DPRD Bawa 5 Tuntutan Utama

AM
43
×

Ratusan Mahasiswa Lintas Kampus di Padang Padati Gedung DPRD Bawa 5 Tuntutan Utama

Sebarkan artikel ini

Padang, Simak.co.id – Gelombang Demonstrasi Mahasiswa Guncang Padang di Hari Sumpah Pemuda. ​Suasana di depan Kantor DPRD Provinsi Sumatera Barat, Jalan S. Parman No. 221, Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, mendadak bergemuruh pada Rabu sore, 28 Oktober 2026. Bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Sumatera Barat (BEM SI SB) turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.45 WIB ini menyedot perhatian publik dan pengendara yang melintas di kawasan tersebut, menyuarakan berbagai keresahan sosial dan ekologis yang kian mendesak di bumi pertiwi.

 

​Aliansi Lintas Kampus Bersatu Suarakan Aspirasi Rakyat

 

​Massa aksi yang diperkirakan berjumlah kurang lebih 100 orang tersebut, tidak turun sendirian, melainkan merupakan gabungan dari berbagai aliansi kampus terkemuka di Sumatera Barat. Berdasarkan data di lapangan, gelombang massa ini dimotori oleh perwakilan mahasiswa dari BEM Universitas Andalas (Unand), BEM Universitas Adzkia, BEM STEI Ar Risalah, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Imam Bonjol, BEM ATIP, hingga BEM Universitas Negeri Padang (UNP). Di bawah komando Erick Yulian Kamal selaku Koordinator Lapangan (Korlap), para mahasiswa bahu-membahu menyatukan tekad demi menyuarakan keadilan bagi masyarakat luas.

 

​Titik Kumpul hingga Longmarch Menuju Gedung DPRD

 

​Rangkaian aksi heroik ini diawali sejak pukul 15.45 WIB, di mana seluruh massa aksi berkumpul terlebih dahulu di titik kumpul Simpang Budiman Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, guna melakukan persiapan matang. Tak lama berselang, tepat pada pukul 16.46 WIB, massa bergerak melakukan longmarch secara teratur menuju Kantor DPRD Provinsi Sumatera Barat. Kehadiran barisan mahasiswa yang berjalan tertib ini langsung mendapat pengawalan ketat sekaligus pendekatan humanis dari aparat kepolisian setempat, demi memastikan aksi berjalan damai sesuai koridor Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Baca Juga : kebakaran hebat gudang kayu di weru cirebon, kerugian ditaksir tembus rp2,26 miliar

 

​Orasi Tajam Sentil Isu Lingkungan dan Transparansi Kebijakan

 

​Setibanya di gerbang Kantor DPRD Sumbar pada pukul 16.50 WIB, panggung orasi langsung dibuka dengan pekikan suara kritis dari para orator mahasiswa. Dalam orasinya, mereka menyoroti berbagai persoalan pelik bangsa yang dinilai luput dari perhatian serius pemerintah pusat. Para mahasiswa dengan tegas menyuarakan keprihatinan mendalam atas musibah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian masif melanda, serta mendesak agar penegakan hukum terhadap oknum-oknum perusak lingkungan segera dieksekusi tanpa pandang bulu.

 

​Pimpinan DPRD dan Kapolresta Turun Terdengar Aspirasi

 

​Menanggapi eskalasi aksi yang semakin memanas, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Nanda Satria, S.IP., bersama Kapolresta Padang, Kombes Pol. Apri Wibowo, S.I.K., M.H., turun langsung ke lapangan pada pukul 17.05 WIB untuk menemui para pengunjuk rasa. Kehadiran para pejabat publik ini dimaksudkan untuk membuka ruang dialog dan mendengar secara langsung poin-poin tuntutan yang dibawa oleh para mahasiswa. Langkah proaktif ini diambil guna menjembatani komunikasi antara lembaga legislatif daerah dengan elemen masyarakat sipil yang tengah berjuang.

 

Baca Juga : lucky hakim minta maaf kepada pemilih lucky-syaefudin, roda pemerintahan indramayu harus tetap berjalan

​Mahasiswa Tolak Audiensi, Pilih Lanjutkan Orasi di Lapangan

 

​Kendati pimpinan DPRD dan pihak kepolisian telah berinisiatif hadir di tengah kerumunan, dinamika aksi sempat menunjukkan sikap penolakan dari pihak mahasiswa. Massa BEM SI SB secara kompak menyatakan tidak ingin melakukan audiensi tertutup dengan Wakil Ketua DPRD Sumbar, Nanda Satria, S.IP. Mereka memilih untuk tetap berdiri di barisan aksi, meneriakkan yel-yel perjuangan, dan melanjutkan orasi terbuka di hadapan publik demi memastikan suara mereka didengar secara transparan tanpa ada ruang kompromi di balik pintu tertutup.

 

​Bentangkan Spanduk Kritik Keras dan Tuntutan Nasional

 

​Aksi unjuk rasa tersebut semakin semarak dan menyita perhatian berkat berbagai atribut dan alat pendukung yang dibawa oleh massa aksi. Selain dua unit sound system pengeras suara yang menggelegar, para mahasiswa juga membentangkan puluhan spanduk berisi kritik sosial yang tajam dan menohok. Berbagai tulisan seperti “Hutan terbakar rakyat sengsara rezim berganda”, “Selamatkan daulat rakyat”, hingga sorotan tajam terhadap krisis iklim dan legitimasi kebijakan pemerintah terpampang nyata di sepanjang pagar gedung dewan, menggambarkan kekecewaan mendalam dari generasi muda.

 

​Lima Poin Tuntutan Utama BEM SI Sumatera Barat

Baca Juga : Kapolres Sampang Jangan Hanya Tegas di Depan Kamera, Sabung Ayam Harus Diawasi Setiap Hari

 

​Secara substansial, aksi unjuk rasa ini merangkum lima tuntutan utama yang ditujukan langsung kepada pemerintah pusat dan pemangku kebijakan. Pertama, mendesak pemerintah agar menetapkan bencana karhutla dan banjir sebagai bencana nasional, memulihkan korban terdampak, serta menindak tegas korporasi perusak lingkungan. Kedua, mendesak perbaikan tata kelola ekonomi nasional yang pro-rakyat. Ketiga, menolak penyempitan ruang sipil dan militerisasi. Keempat, memberantas KKN serta penyalahgunaan kekuasaan. Kelima, menuntut penurunan biaya pendidikan, kesehatan, serta pelayanan publik yang merata.

 

​Refleksi Hari Sumpah Pemuda dan Kepedulian Krisis Iklim

 

​Pemilihan tanggal 28 Oktober 2026 sebagai waktu pelaksanaan aksi bukanlah tanpa alasan yang matang. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, para mahasiswa ingin mengingatkan kembali esensi perjuangan pemuda dalam menjaga keutuhan dan masa depan bangsa. Krisis iklim yang membelit negeri, seperti bencana ekologis di Kalimantan yang merenggut nyawa dan kesehatan masyarakat akibat infeksi saluran pernapasan, dijadikan refleksi nyata bahwa negara dinilai lalai dan lamban dalam melindungi hak-hak dasar warganya untuk hidup secara layak dan sehat di bumi pertiwi.

 

​Situasi Berakhir Kondusif, Massa Bubarkan Diri dengan Tertib

 

​Setelah menyampaikan seluruh rangkaian orasi, pandangan kritis, serta tuntutan kerakyatan secara lantang di halaman kantor legislatif, situasi berangsur-angsur melunak menjelang malam hari. Tepat pada pukul 18.30 WIB, seluruh rangkaian aksi unjuk rasa dinyatakan selesai. Tanpa ada insiden berarti yang mengganggu ketertiban umum, massa aksi BEM SI Sumatera Barat secara sukarela membubarkan diri dan meninggalkan lokasi secara tertib, mengakhiri sore yang penuh warna di jantung Kota Padang dalam situasi yang aman dan kondusif. (AM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *